Art of Smartbisnis: Strategi Pengembangan Bisnis E-Commerce Ala JD.ID

4 November 2018 21:29:16

JD adalah salah satu
raksasa e-commerce di Cina yang terus bersaing untuk memperebutkan pasar dan
keuntungan selama tahun 2017. Sukses di Cina, tidak membuat JD merasa puas.
Salah satu langkah berikutnya yang diambil adalah dengan mengembangkan
bisnisnya di Indonesia sejak November 2015. Berbeda dengan pesaing bisnisnya
dari Cina yaitu Alibaba yang mengakuisisi Lazada dan Tokopedia, JD lebih
memilih untuk membuat entitas lokal bernama JD.ID dibanding berinvestasi kepada
startup lain. Untuk melakukan tersebut, mereka bekerja sama dengan
perusahaan investasi tanah air, yaitu Provident Capital.
JD.ID menjalankan dua
model bisnis yang berbeda. Sekitar sembilan puluh persen produk yang dijual
merupakan produk yang mereka miliki sendiri atau yang dikenal dengan sebutan business-to-consumer/B2C.
Sisanya merupakan produk yang dimiliki oleh para merchant yang bekerja
sama dengan mereka (marketplace/C2C).
Dengan menjual barang
yang mereka miliki sendiri, tentu akan lebih mudah bagi JD.ID untuk melakukan
kurasi, serta menjaga kualitas barang di platform mereka. Walaupun dalam model
bisnis tersebut membuat jumlah produk yang mereka miliki cenderung lebih
sedikit dibanding marketplace lainnya seperti Tokopedia atau Shopee.
Sejalan dengan misi itu,
sejak awal September 2017 JD.ID pun meluncurkan kampanye yang bertajuk
#DijaminOri. Kampanye tersebut menghasilkan pendapatan (revenue) JD.ID
pada bulan November 2017 menyamai pendapatan sepanjang tahun 2016. Bahkan Daily
Active Users (DAU) mereka naik 10 kali lipat dibanding tahun lalu. Sebagai
informasi, pendapatan (revenue) yang dimaksud adalah total nilai
transaksi dari barang-barang yang JD.ID jual sendiri, di luar barang-barang
yang dijual oleh para merchant. Kampanye #DijaminOri tersebut membuat
JD.ID tumbuh dengan cepat, bahkan jumlah transaksi yang dihasilkan mencapai
jutaan transaksi di tahun 2017.
Selain menonjolkan
kualitas barang, JD.ID pun ingin menarik kepercayaan masyarakat dengan cara
menyajikan proses pengiriman barang yang cepat. Itulah alasan JD.ID mendirikan
gudang di kota-kota strategis seperti Jakarta, Pontianak, Makasar, Medan, dan
Surabaya. Menurut Li selaku Presiden Direktur JD.ID, keputusan untuk membuat
gudang di kota-kota tersebut bukan karena adanya banyak pesanan yang datang
dari sana, namun berdasarkan pada posisi geografis yang strategis sebagai pusat
pengiriman barang.
Tak hanya menjual produk
fisik, JD.ID pun menghadirkan produk digital lainnya seperti JD Flight, yang
memungkinkan penggunanya untuk membeli tiket pesawat dan didukung oleh
Traveloka. Produk digital lainnya yaitu bekerja sama dengan CGV untuk
menghadirkan layanan pembelian tiket bioskop. Bahkan JD.ID juga menghadirkan
fitur isi ulang pulsa seluler dan pembelian paket data di platformnya.
Menurut Li, banyak
sekali peluang usaha yang bagus dan menjanjikan di Indoneisa, sehingga
apapun model bisnis yang dijalankan sebuah startup, baik itu B2C ataupun
marketplace tetap ada peluang untuk sukses. Setiap model bisnis tentu membawa
nilai yang berbeda. Namun jenis usaha apapun yang ingin dilakukan tentunya
harus dapat dipercaya oleh masyarakat Indonesia.
Nah, itulah kisah
menarik tentang strategi pengembangan bisnis yang dibuat oleh JD.ID dari awal
berada di Indonesia tahun 2015 hingga sekarang. Bagaimana menurut Sobiz, apakah
terinspirasi oleh kisah tersebut dan tertarik ingin mengikuti jejak kesuksesan
JD.ID?
Temukan lebih banyak
informasi seputar kisah-kisah inspiratif dan referensi peluang usaha lengkap
dengan cara bergabung bersama komunitas Smartbisnis. Tak hanya itu,
dengan bergabung bersama Smartbisnis, maka Sobiz juga bisa mendapatkan
bantuan serta dukungan pinjaman modal mudah. Jadi bergabunglah sekarang
juga dan kunjungi website resmi Smartbisnis di yellowpages.co.id

 

copyrights © 2018 MDMedia.   All rights reserved.