Cara Jitu Menganalisis Lanskap Bisnis Masa Kini

7 November 2018 16:18:18

Kamu sedang mempersiapkan sebuah bisnis baru? Kamu berencana mengeluarkan produk anyar? Atau, kamu ingin memantapkan strategi bisnis dan marketing perusahaan kamu di era yang disebut zaman now ini? Janganlah ragu-ragu untuk memulainya. Namun, jangan pula gegabah dan buru-buru agar bisnis, produk, dan strategi kamu jalan, bertahan, sekaligus berkembang di masa depan.

Bagaimana caranya? Caranya dengan analisis 4C Diamond. Model analisis ini pertama kali dipopulerkan oleh MarkPlus, Inc sejak lama, tapi masih sangat relevan. 4C yang dimaksud adalah Change, Customer, Competitor, dan Company. Seperti apa cara menggunakan metode ini? Simak paparan singkat setiap elemen analisis tersebut.

Change

Langkah pertama yang harus dilihat adalah lanskap industri yang sarat dengan perubahan. Kita sepakat, tak ada yang abadi di dunia ini. Dunia ini – khususnya industri – selalu berubah. Filsuf Yunani Herakleitos (550-480 SM) jauh-jauh waktu pernah mengatakan segala sesuatu itu mengalir alias pantha rei. Menurutnya, hanya satu yang abadi di dunia ini, yakni ketidakabadian atau perubahan.

Faktor utama perubahan adalah perkembangan teknologi – khususnya Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Pebisnis-cum-futuris Alfin Toffler pernah mengatakan, the great growling engine of change is technology. Teknologi menjadi yang bagian Change pertama yang kudu dianalisis. Sejarah membuktikan dampak besar teknologi pada lanskap kehidupan manusia – dari hadirnya listrik, kereta api, pesawat terbang, telepon, mesin cetak, kloning, hingga internet, digital imaging, media sosial, hingga 3D printing, dan sebagainya.

Teknologi hadir membawa kebaruan sekaligus disrupsi bagi kemapanan. Bisnis yang tak siap dan adaptif dengan teknologi dipastikan bakal terengah-engah dan bahkan pailit lanjut gulung tikar. Teknologi dengan cepat melahirkan banyak hal baru. Tapi, sembari demikian, teknologi juga membuat banyak hal cepat usang.

Tak hanya bisnis, teknologi juga mengubah wajah kehidupan sosial dan politik. Fenomena Arab Spring – jatuhnya rezim-rezim di Timur Tengah –, misalnya, terjadi bersamaan dengan fenomena jejaring sosial, seperti Twitter dan Facebook. Banyak kekuasaan otoriter jatuh karena dukungan media-media baru ini.

Biasanya, perubahan teknologi ini turut memengaruhi perubahan elemen Change lainnya, seperti ekonomi, political-legal, sosio-kultural, maupun market. Nah, kamu perlu mempelajari juga political-legal sebuah wilayah, regulasi, undang-undang, dan sebagainya. Biasanya, regulasi sangat berpengaruh pada aturan main dinamika pasar dan bisnis. Jangan sampai, kamu menjalankan sebuah bisnis yang ternyata terhambat secara regulasi.

Kamu juga perlu melihat kehidupan sosial budaya tempat bisnis kamu dijalankan. Jangan sampai, produk atau bisnis kamu tidak relevan dengan segmen yang dituju. Kamu perlu mempelajari juga kondisi ekonomi dan pasar yang ada. Bila tak tanggap pada perubahan, bisnis kamu mungkin akan bernasib seperti Kodak, Nyonya Meneer, BlackBerry, dan sebagainya.

Customer

Hal kedua yang harus kamu lihat dan pahami adalah kehidupan customer. Mereka adalah pihak yang akan kamu penuhi kebutuhannya melalui produk-produk dan layanan kamu. Merekalah yang sering disebut sebagai Value Demander. Kamu harus memahami customer sampai pada tahap anxiety and desire mereka – tidak sekadar kesukaan, preferensi, dan keinginan. Misalnya, ternyata customer sekarang lebih senang selfie dan pamer foto mereka di media sosial. Nah, kamu yang misalnya mau membuka sebuah restoran, cobalah memikirkan cara agar mereka senang berselfie di resto kamu yang mana itu merupakan promosi gratis bagi resto kamu.

Memahami customer di sini juga sebaiknya disesuaikan dengan segmen yang kamu bidik. Customer dari kalangan Generasi X, Generasi Y, dan Generasi Z memiliki karakter dan behavior masing-masing. Nah, kamu sebaiknya paham dengan mereka di masing-masing segmen. Buat apa membuat produk yang tidak relevan lagi dengan kebutuhan mereka atau tidak sesuai dengan preferensi pelanggan yang sudah berubah. Tentu hal ini akan sia-sia dan buang-buang energi dan biaya.

Competitor

Hal ketiga yang perlu kamu lihat adalah kompetitor kamu. Kamu juga perlu memahami peta kompetisi yang sedang berlangsung. Di pasar yang sudah penuh (red ocean), kamu harus menghadapi banyak kompetitor, baik kecil maupun kakap. Kamu juga harus jeli melihat apa saja yang dilakukan kompetitor (inovasi, produk baru, strategi baru, dsb). Ingat, kompetitor ini seperti kamu adalah penyedia jawaban atas kebutuhan pelanggan (Value Supplier). Jangan sampai kamu merilis produk, tetapi ternyata konsumen sudah bergeser ke kompetitor alias terjadi value migration.

Di sini, kamu perlu rajin-rajin mencari informasi terkait para pesaing lain yang kemungkinan besar akan menjadi lebih kuat, melemah, munculnya pemain baru yang menjanjikan (rising stars), atau menghilang dari lanskap persaingan. Dan, kamu perlu tahu juga siapa saja yang bakal menjadi pesaing langsung atau tidak langsung. Dengan memahami kompetitor dan lanskap kompetisi, kamu bisa menentukan positioning dan diferensiasi apa yang akan kamu suguhkan kepada customer.

Company

Setelah menganalisis ketiga elemen di atas, sekarang saatnya kamu menganalisis perusahaan dan bisnis kamu sendiri. Kamu menimbang-nimbang kekuatan kompetitif bisnis kamu. Kamu melihat kompetensi perusahaan (existing competence), peluang-peluang yang ada untuk digarap (stretch possibilities), maupun sikap perusahaan pada risiko (risk-attitude).

Setelah itu, kamu putuskan model bisnis atau produk seperti apa yang akan kamu jalankan. Atau, bisa jadi kamu memutuskan untuk mengubah bisnis atau tidak jadi berbisnis sama sekali. Kamu di sini berperan sebagai Value Decider.

Demikianlah analisis dengan model 4C Diamond. Di era konektivitas seperti sekarang, 4C ini masih perlu ditambah dengan C selanjutnya, yakni Connector. Kita tahu, internet telah mengkoneksikan bisnis kita dengan banyak hal dan koneksi ini berpotensi mengubah. Sebab itu, kita juga perlu memahami konektor-konektor di lanskap bisnis di zaman now seperti sekarang ini.

(***)

Sumber  

copyrights © 2018 MDMedia.   All rights reserved.