Tips dan Artikel

Berapa Lama Jam Kerja yang Efektif dan Produktif Untuk Generasi Milenial?

2018 February 28 16:44

Memiliki pekerjaan merupakan kebanggaan bagi setiap orang, termasuk menjadi karyawan atau buruh sekalipun. Perkerjaan merupakan cara mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang dalam mendapatkannya memang tidak mudah. Terlebih di era penuh persaingan bebas saat ini. 

Pekerja dengan jabatannya yang tinggi maupun rendah, memiliki hak dan kewajiban yang harus diperhatikan. Terutama bagi pemilik perusahaan atau pengelola perusahaan tersebut. Mulai dari masalah kesejahteraan, kesehatan, upah minimum yang sering kali jadi perdebatan, hingga masalah jam kerja yang tidak kalah menyita perhatian. 

Jam kerja empat hari dalam seminggu

Pakar psikologi K. Anders Ericsson melakukan eksperimen yang menunjukkan bahwa orang hanya bisa berkonsentrasi selama empat sampai lima jam saat bekerja sebelum mereka berhenti menyelesaikan sesuatu. Lebih dari itu, hasil pekerjaannya cenderung datar atau justru memburuk. 

Menurut Ericcson seperti dilansir dari Business Insider, mendorong orang untuk bekerja lebih dari durasi mereka bisa berkonsentrasi secara maksimal, hanya membuat mereka memiliki kebiasaan buruk. Kebiasaan buruk itu bisa juga membuang waktu mereka bisa untuk bekerja produktif.

Singkat kata, menurutnya memangkas waktu bekerja bisa menuai hasil yang lebih baik.

Ryan Carson, CEO dari perusahaan edukasi teknologi Treehouse, melihat karyawannya lebih bahagia dan produktif sejak dia mengimplementasikan waktu bekerja selama 32 jam setiap pekan pada 2006. 

Carson menganut prinsip bahwa memaksa orang bekerja 40 jam setiap pekan itu nyaris tidak manusiawi. “Ini bukan soal waktu untuk keluarga, atau untuk bersenang-senang, atau bekerja lebih sebentar, ini tentang hidup lebih seimbang,” katanya. 

Prinsip Carson tidak membuat perusahaannya sulit mendapat untung. Pendapatan tahunannya mencapai jutaan dolar AS, dan menurut Carson para karyawan senang datang ke kantor untuk bekerja setiap hari.

Cerita serupa terjadi di perusahaan Reusser Design yang mengubah peraturan bekerja jadi empat hari sepekan pada 2013. Meski perusahaan itu menerapkan waktu bekerja yang lebih lama untuk mengganti libur pada Jumat, pendiri perusahaan Nate Reusser mengatakan produktivitas meningkat.

Reusser menambahkan bahwa kebijakan itu memotivasi orang untuk bekerja lebih keras, mirip dengan orang yang giat bekerja menyelesaikan proyek sebelum berlibur.

Namun, survei yang kami lakukan via Twitter mengungkapkan, masih banyak pekerja yang tidak setuju dengan waktu kerja 4 hari selama seminggu. Survei tersebut mengungkapkan, sebanyak 41 persen pekerja menganggap kerja selama 4 hari dalam seminggu tidak efektif. Lalu, benarkah jam kerja 8 jam per hari lebih efektif?

Jam kerja 8 jam per hari

Sebagai pekerja, kamu mungkin pernah bergumam, mengapa jam kerja harus delapan jam per hari sih? Kamu tidaklah sendirian, karena sebagian besar profesional di seluruh dunia juga menjalani standar jam kerja yang sebenarnya telah berlangsung lebih dari satu abad ini.

Asal muasal jumlah jam kerja delapan jam per hari berawal dari era revolusi industri, saat belum ada standar yang jelas bagi pekerja. Setiap pekerja umumnya bekerja selama 10 hingga 18 jam setiap hari. Pada tahun 1791, para pekerja di Philadelphia meminta kepada para pemilik usaha untuk melakukan standardisasi jam kerja karyawan menjadi sepuluh jam per hari.

Ide penetapan jam kerja ini juga pernah diungkap oleh Robert Owen, seorang sosialis dari Inggris yang mencetuskan istilah “delapan jam bekerja, delapan jam rekreasi, delapan jam istirahat”. Sayangnya deretan aksi untuk meregulasi ulang kebijakan jam kerja ini tidak membuahkan hasil.

Hingga akhirnya pada tahun 1905 ketika Henry Ford, pemilik Ford Motor Company, mulai mengimplementasikan delapan jam kerja per hari di perusahaannya. Tidak hanya itu, Henry Ford juga menaikkan bayaran para pekerjanya dua kali lipat yang berdampak kepada peningkatan produktivitas pekerja secara drastis.

Melihat keberhasilan Henry Ford, perusahaan lain terinspirasi untuk melakukan hal serupa. Mereka mengaplikasikan delapan jam kerja untuk para karyawan di perusahaan masing-masing.

Kebijakan ini baru mendapatkan legitimasinya pada tahun 1937, ketika delapan jam kerja menjadi standar yang ditetapkan oleh pemerintah Amerika Serikat melalui Fair Labor Standards Act. Kebijakan tersebut masih menjadi acuan para perusahaan hingga sekarang.

Aturan mengenai jam kerja di Indonesia pun telah diatur dalam Undang-Undang No.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, khususnya pasal 77 sampai dengan pasal 85.

Pasal 77 ayat 1, UU No.13/2003 mewajibkan setiap pengusaha untuk melaksanakan ketentuan jam kerja. Ketentuan jam kerja ini telah diatur dalam 2 sistem seperti yang telas disebutkan diatas yaitu:

7 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 6 hari kerja dalam 1  minggu; atau

8 jam kerja dalam 1 hari atau 40 jam kerja dalam 1 minggu untuk 5 hari kerja dalam 1 minggu.

Pada kedua sistem jam kerja tersebut juga diberikan batasan jam kerja yaitu 40 (empat puluh) jam dalam 1 (satu) minggu. Apabila melebihi dari ketentuan waktu kerja tersebut, maka waktu kerja biasa dianggap masuk sebagai waktu kerja lembur sehingga pekerja/buruh berhak atas upah lembur.

Berdasarkan data International Labor Organization (ILO) seperti dikutip dari Databoks.katadata.co.id, terdapat 26,3 persen dari pekerja di Indonesia yang bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Jumlah pekerja keras Indonesia ini hanya kalah dari Korea Selatan sebanyak 32 persen dan Hong Kong 30,1 persen. Jumlah pekerja yang kerja di atas standar tersebut didominasi oleh negara-negara di wilayah Asia, sedangkan negara-negara barat mempunyai persentase yang lebih sedikit. Di Amerika hanya Amerika Serikat sebesar 16,4 persen, Perancis 10,1 persen dan Jerman 9,6 persen.

Apakah delapan jam bekerja terbukti efektif?

Alasan dari mengapa kita bekerja selama delapan jam sehari tidaklah berdasarkan penelitian ilmiah, tetapi dari praktik industri yang telah berjalan selama lebih dari satu abad. Sistem delapan jam kerja ini belakangan sudah terasa tidak relevan di industri kreatif yang para pelakunya sering bekerja hingga larut malam.

Tidak semua perusahaan menerapkan kebijakan kerja delapan jam per hari secara “saklek”. Sebagai contoh, manajemen YellowPages memang memberlakukan jam kerja selama 8 jam setiap harinya. Namun, jika karyawan yang bersangkutan memiliki hal-hal penting yang harus diurus yang mengharuskannya tidak masuk (dan tidak mengambil jatah cuti), sang karyawan dapat mengerjakan pekerjaannya di mana saja. 

Terdengar menyenangkan? Namun di balik semua itu, tetap ada tanggung jawab besar yang harus diemban.

Tidak hanya di YellowPages, kini beberapa perusahaan, terutama yang bergerak di bidang media atau teknologi, juga menerapkan jam kerja yang lebih fleksibel. Di Tech in Asia Indonesia misalnya, perusahaan yang bergerak di bidang media informasi ini tidak menghitung berapa lama karyawannya ada di kantor atau bekerja dalam sehari. Selama penugasan yang diberikan dapat selesai dalam waktu yang ditentukan, sang karyawan bebas untuk mengerjakannya kapan saja, di mana saja. 

Beberapa karyawan Tech in Asia Indonesia memilih untuk bekerja dari pagi hingga sore hari. Ada juga yang mulai bekerja dari siang hingga larut malam. Tidak ada batasan jam kerja tertentu untuk para karyawan Tech in Asia Indonesia. 

Tidak ada yang salah dengan pola jam kerja yang demikian, sebab tingkat energi seseorang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Yang terpenting adalah kualitas kerja, produktivitas, dan kesehatan dari setiap anggota.

Atur energimu, bukan waktumu

Tony Schwartz dalam sebuah artikelnya di Huffington Post pernah menyatakan, “Atur energimu, bukan waktumu.” Hal ini seakan menegaskan bahwa yang harus jadi sorotan utama dari para pekerja adalah energi yang mereka miliki, bukan jam kerja yang dialokasikan untuk mereka.

Schwartz menjelaskan bahwa kita harus mampu untuk mengatur empat tipe dari energi berikut setiap hari:

Energi fisik – Seberapa sehat diri kamu?

Energi emosional – Seberapa bahagia diri kamu?

Energi mental – Seberapa baik kamu dapat fokus terhadap sesuatu?

Energi spiritual – Mengapa kamu melakukan pekerjaanmu? Apa yang menjadi tujuan utamamu?

Perlu diingat, tidak seperti mesin yang bekerja tanpa mengenal lelah, manusia bekerja dengan siklus tersendiri yang mengharuskannya bekerja dan beristirahat. Karenanya, pengaturan energi adalah hal yang sangat penting apabila kamu ingin mendapatkan hasil yang optimal.

Leo Widrich dari Buffer menjelaskan bahwa otak manusia hanya dapat fokus bekerja selama 90 hingga 120 menit, sebelum membutuhkan istirahat selama 20 hingga 30 menit untuk kembali mencapai kinerja optimal. Fenomena ini dinamakan Ultradian Rhythm, sebuah siklus unik yang hadir baik pada waktu kita bekerja ataupun waktu kita tidur.

Konsep Ultradian Rhythm pertama kali dicetuskan oleh Nathaniel Kleitman, seorang peneliti tidur. Ia menyebutnya sebagai “siklus dasar aktivitas-istirahat” (basic rest-activity cycle). Siklus ini berdurasi selama sembilan puluh menit yang terbagi menjadi lima tahapan tidur. Selain ditemukan dalam pola tidur seseorang, siklus ini juga berlaku pada keseharian kita.

Dengan mengikuti teori ini, daripada kamu mengkhawatirkan tentang apa yang dapat kamu lakukan dalam satu bulan, satu minggu, atau satu hari, mengapa tidak memecah penugasan tersebut menjadi bagian yang lebih kecil? Kamu bisa bertanya kepada diri sendiri, apa yang dapat saya kerjakan dalam waktu sembilan puluh menit?

Dengan memahami pola kerja dan optimalisasi otak, kamu akan menemukan tempo kerjamu sendiri, terlepas dari jam kerja yang dialokasikan oleh perusahaan. Buat setiap energi yang kamu gunakan menjadi efektif, ketimbang hanya menghabiskan waktu kerja dengan hasil yang kurang optimal.

Jam kerja tidak menentukan produktivitas

Melansir dari Liputan6.com, Gothenburg, salah satu kota di Swedia, menjadi salah satu kota yang masuk dalam uji coba pemangkasan waktu kerja di Swedia menjadi enam jam dalam sehari. Dari uji coba tersebut, produktivitas karyawan tidak terganggu, dampaknya justru positif mengingat karyawan merasa lebih sehat.

Namun, meski uji coba pemangkasan jam kerja telah berlangsung selama dua tahun ini mendekati tahap akhir kota tersebut tidak berencana untuk menetapkan pemotongan jam kerja itu jadi permanen atau memperluas fasilitas lainnya. Hal itu lantaran membutuhkan lebih banyak biaya dan bahkan bantuan dari pemerintah pusat. Salah satunya, dikarenakan sebagai ganti pengurangan jam kerja karyawan, pihak perusahaan harus menyewa staf tambahan. Meski penambahan staf mengurangi jumlah pengangguran, biaya pengeluaran untuk pemangkasan jam kerja juga membengkak. 

Cerita dari Gothenburg menunjukkan, meski ada beberapa hal yang masih harus terus dikaji, lama waktu kerja yang dihabiskan di kantor ternyata tak selalu berbanding lurus dengan produktivitas. Seorang yang berhasil mengatur fokusnya terhadap sebuah penugasan adalah seseorang yang produktif.

Riset yang dilakukan oleh Justin L. Gardner, seorang peneliti dari Stanford University, menyimpulkan bahwa otak manusia akan lebih optimal apabila digunakan untuk menyelesaikan tugas satu per satu, tidak secara bersamaan. Yang terbaik adalah dengan melakukan penentuan prioritas dan menyelesaikan pekerjaan secara berurutan.

Menurut Hendri Salim, CEO Tech in Asia Indonesia, tujuan utama dari produktivitas bukanlah mengerjakan semua tugas yang diserahkan. Orang yang produktif adalah insan yang mampu menyelesaikan hal-hal paling penting sembari menjaga energi, fokus, dan waktu dengan tetap prima.

Bagi kamu pemilik bisnis, kini sudah bisa mendapatkan gambaran bagaimana seharusnya mengatur waktu kerja para karyawan kamu supaya mereka lebih produktif.

“Productivity is never an accident. It is always the result of a commitment to excellence, intelligent planning, and focused effort.” ― Paul J. Meyer

(***)

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan mendaftar DISINI.   

 

Artikel Terkait

  • Tidak ada data

copyrights © 2018 MDMedia.   All rights reserved.