Tips dan Artikel

Dulu Korban Bully, Sekarang Sukses Jadi Pengusaha Terkaya RI

2018 May 18 19:49

Siapa tidak tahu GarudaFood. Perusahaan yang terkenal dengan beragam jenis produk kacang-kacangan ini, dulunya hanya industri kecil. Lewat tangan Sudhamek AWS, GarudaFood berkembang pesat seiring waktu.

Sudhamek memang hanya meneruskan bisnis kacang tanah keluarga. Tapi berkat kepiawaiannya mengelola perusahaan, membuat GarudaFood menjadi salah satu perusahaan raksasa di Indonesia, yang tidak hanya memproduksi kacang, tapi juga bermacam produk lainnya.

Usahanya membuat bisnis tersebut sukses bukan perkara mudah. Semasa muda, Sudhamek kerap jadi sasaran bully teman-teman sebaya karena namanya dianggap aneh. Sudhamek yang berlatar belakang keluarga susah juga pernah dihina miskin.

Tapi dia membuktikan kepada orang-orang yang dulu memandangnya sebelah mata bahwa sosok Sudhamek bisa berubah 180 derajat.

Sudhamek yang pada 2017 tercatat sebagai orang terkaya ke 38 di Indonesia versi Forbes, punya banyak kisah menarik sebelum dia sukses. Seperti apa ceritanya?

Biografi Sang Milyarder

Sudhamek berasal dari kota kecil di Rembang, ia terlahir dari keluarga yang tidak mampu. Semasa kecilnya sedari dulu ia sudah hidup di tengah-tengah perkampungan nelayan.

Sudhamek terbiasa hidup dekat pantai, rumahnya pun dekat sekali dengan pantai, apabila berjalan kaki jaraknya sekitar 300-400 meter dari pantai, sehingga membuat ia harus makan ikan laut setiap harinya.

Pernah sih makan ayam, itupun menurutnya sudah menjadi hidangan yang mewah. Namun, meski dari keluarga miskin ia terbebas dari masalah kesehatan yaitu kekurangan gizi, karena ikan laut di wilayahnya masih segar dan lautnya belum terpolusi seperti laut sekarang yang sangat kotor.

Cerita lain dari seorang milyader Sudhamek, ternyata semasa kecilnya ia sempat jadi korban bullying, ya saat ia masih duduk di bangku SMP dan SMA oleh teman-teman sekolahnya.

Dulu jadi sasaran ejekan teman-teman dan sekarang jadi salah satu orang terkaya di Indonesia

Sudhamek merasa dirinya beruntung, pada saat mengalami luka bati dan emosional secara terus-menerus selalu ia lawan dengan bentuk kemarahan, namun dari amarah itu Sudhamek ubah menjadi energi untuk ia buktikan pada dunia bahwa ia tidak seperti yang mereka banyangkan. Sejak itulah Sudhamek merasa ada sifat kompetitifnya.

Bermula dari hal itu, ia bangkit lalu menjadi sukses. Sudhamek mulai membangun bisnis GarudaFood yang menurutnya merupakan tantangan bagi hidupnya.

Namun dengan begitu, menurut Sudhamek, “Bisnis itu sebetulnya adalah bagaimana kita bisa menjual, karena dengan menjual anda ada peluang untuk mendapat keuntungan, dengan dapat keuntungan anda punya peluang untuk diinvestasikan kembali, dengan diinvestasikan kembali bisa tumbuh lebih jauh lagi dan seterusnya.”

Sudhamek merincikan beberapa pandangannya yang pertama, perusahaan itu tumbuh sehat, dananya itu bersumber dari profit. Yang kedua, baru dana dari luar. 

Yang ketiga, baru pinjaman selain hasil dari profit atau modal sendiri. Jadi oleh sebab itu tantangan pertama adalah bisa menjual, dan untuk bisa menjual semua tergantung dari jenis industrinya.

Kalau di consumer goods (barang konsumsi), selama pengalamannya di dunia bisnis makanan minuman merupakan consumer goods untuk bisa menjual dan harus dibenahi distribusinya. Maka itu, distribusi itu penting dan asalnya adalah milik agen-agen kami. 

Pendistribusian itu perlahan ia benahin sampai akhirnya menjadi bisnis sebesar ini, yang terpenting sebagai pebisnis kamu harus tahu bagaimana caranya menjual, setelah itu kamu bisa ke tahap beriklan, tapi harus masuk ke TV nasional ya jangan TV yang lokal, karena TV nasional itu menunjukkan produk kita sudah merata distribusinya.

GarudaFood ini perusahaan keluarga, bagaimana cara menjalani berbagai tantangan dari bisnis keluarga ini? Family issue bisa terjadi, bisa disinkronkan antara family issue dengan business issue. 

Kemudian yang kedua, bagaimana melakukan aligment antara pemilik dengan profesional. Jangan dikotomikan pemilik itu selalu benar, profesional juga nggak selalu benar. Yang selalu benar itu adalah kepentingan perusahaan. Makanya semua orientasi semuanya harus ke perusahaan.

Menurutnya, jadi pemimpin itu harus jadi role model, memberikan contoh, sehingga waktu ngomong itu kita didengar. Credibility itu adalah sebuah kekuatan yang terbentuk melalui sebuah proses yang panjang dan konsisten. Panjang tapi kalau tidak konsisten juga tidak akan kebentuk. Hal ini membutuhkan disiplin.

Setiap bisnis itu ada yang namanya IKSF/industry key success factor. Menerjemahkannya tidak sesimpel itu. Yang pertama adalah adanya teknologi mastery, penguasaan terhadap teknologi dan innovation. Jadi teknologinya harus dikuasai dan kemudian innovation. Teknologi utamanya kepada qu ality dan productivity. Innovation pada dasarnya untuk membangun sebuah keunggulan ada unique value differentiation/uvp-nya. Itu pertama.

Kedua adalah brand value karena ini kita di consumer goods, you have to built your brand. Brand itu pertanyaannya adalah how is you brand. Brand value dan itu membangun itu tidak hanya butuh uang banyak, butuh waktu yang panjang, butuh kecerdasan tersendiri. Kreativitas lah lebih tepatnya.

Ketiga adalah distribution network itu. Tanpa punya distribution network, kamu tidak akan bisa memenangkan persaingan itu. 

Ketiga itu kemudian diturunkan sampai jadi activity plan lalu diukur dari waktu ke waktu. (akw)

(***) 

Artikel Terkait

  • Tidak ada data

copyrights © 2018 MDMedia.   All rights reserved.