Tips dan Artikel

Kiat Sukses Berbisnis ala Mompreneur Rizki Rahmadianti

2018 March 15 10:22

Mengenal sosok Rizki Rahmadianti, mungkin bisa dibilang sebagai salah satu ibu rumah tangga yang memiliki kemampuan lebih tidak hanya dalam mengatur keluarga namun juga ikut menyumbang pundi-pundi rejeki bagi keluarganya. 

Di tengah kesibukannya, Rizki mampu menjalankan bisnisnya selama lebih dari 5 tahun, membuat beberapa bisnis baru, dan tetap berjalan dengan konsisten. Bahkan, saat kamu mencari namanya di Google, kamu akan dengan mudah menemukan banyak pemberitaan positif yang membahas tentang keberhasilan Rizki.

Lalu, apa saja sih kia-kiat sukses dalam berbisnis seperti yang dilakukan Rizki? Apa kiat-kiat berikut cocok untuk kamu jalankan?

Pantang menyerah

Sebelum go digital, Rizki masih berjualan secara door to door, dan seringkali sukses mendapat penolakan. “Pedih memang,” katanya. “Namun hal inilah yang membuat saya sadar bahwa lebih gampang untuk jualan di Internet.”

Maka pada  tahun 2007, Rizki membuat website untuk produknya yang diberi nama Rumah Jilbab Ananda. Bisnis ini kemudian mengantarkannya mendapat beasiswa pelatihan di Belanda.

Jumlah belum tentu menentukan

Dalam perjalanan bisnisnya, Rizki pernah merasa bahwa jumlah atau kuantitas dalam bisnis selalu akan memberikan dampak yang positif. Padahal pada kenyataannya tidak selalu seperti itu. Hal ini terbukti ketika pada tahun 2009, kala itu ia mempunyai jumlah penjahit sebanyak 100 orang yang berasal dari kalangan ibu rumah tangga dan dikerjakan secara take home.

Namun apa yang terjadi, masalah justru datang karena ia harus menghandle 100 orang tersebut yang tidak selalu bisa bekerja secara konsisten. Bahkan beberapa diantara penjahit tersebut justru memberikan masalah yang sulit seperti kurangnya koordinasi dan juga buruknya kualitas jahitan.

Dari situ ia berfikir, untuk merasionalisasi jumlah penjahit menjadi hanya 15 orang saja. Namun 15 orang tersebut mempunyai skill yang sudah terlatih dan dapat dipercaya. Dari situ ia mengaku, produktivitas jauh lebih meningkat dibanding dengan 100 orang yang kurang berkompeten.

“Semua penjahit kami bekerja dengan cepat. 15 orang bisa mengerjakan 5x lebih cepat daripada 100 orang,” ujar Rizki.

Perhatikan masalah HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual)

Belajar dari pengalaman yang sudah dialami oleh Rizki dalam mengembangkan bisnis, kala itu ia pernah terganjal dengan masalah hak kekayaan intelektual terkait dengan merek dagang. Akan tetapi, upayanya terganjal karena nama Rumah Jilbab Ananda telah dipatenkan orang lain. 

Rizki berpikir bahwa tidak ada gunanya melanjutkan untuk mengembangkan nama brand yang suatu saat justru memunculkan konflik. Maka, Rumah Jilbab Ananda ditutup dan Rizki membuka nama baru, Rizhani. “Kita start fresh. Dari nol lagi,” katanya.

Memang, membuat nama baru berarti kamu mulai dari nol lagi. Segala upaya marketing yang kamu lakukan untuk membesarkan nama brand lama kamu menjadi sia-sia. “Kalau tahu begini, dari awal saya sudah start dengan nama yang benar-benar unik dan tidak beresiko menimbulkan dispute,” kata Rizki.

Meluaskan jangkauan usaha

Ketika usaha jilbab Rizhani yang dijalankannya sudah mampu berputar dengan baik, kala itu Rizki berfikir untuk semakin memperluas usaha. Melihat kemampuan dari tim penjahitnya yang begitu baik, akhirnya ia terfikir untuk membuka bidang usaha baru yakni rumah produksi jahit.

“Saya merasa ada yang dapat dimaksimalkan dari sini,” kata Rizki menunjuk soal kecepatan tangan penjahitnya. “Mereka mampu menjahit kain sifon tanpa kesulitan.”

Maka, setelah mengakuisisi sebuah unit produksi jahit, Rizki membuat unit bisnis baru yang diberinya nama Rira Clothing. Rira Clothing adalah sebuah konveksi fashion yang menerima pemesanan jahit dari brand milik orang lain. Dengan demikian, Rizki tetap mampu memproduksi busana muslim untuk Rizhani sekaligus menerima permintaan jahitan dari brand milik orang lain.

Kuat dalam persaingan

Memahami tentang persaingan bisnis online tentu tidak selalu mudah. Namun di balik tingginya persaingan, terselip sebuah potensi besar untuk mampu meraup keuntungan yang tidak sedikit. 

“Pernah di Tokobagus saya temukan sebuah toko yang menggunakan foto milik Little Bee,” kata Rizki mengenang. “Luar biasanya, dengan foto yang sama, bahkan watermark-nya masih menempel, dia berani menetapkan harga Rp 30.000,00. 5 kali lebih murah dari Little Bee. Bukan itu saja. Si pemilik kemudian datang ke Fanspage Facebook kami dan menulis bahwa jualannya lebih murah, jadi mending beli dari tokonya saja.”

“Saya hanya mendoakan agar desain kami memberikan manfaat baginya,” pungkas Rizki. “Saya percaya bahwa bisnis yang diawali dengan baik, hasilnya akan baik. Begitu pula berlaku sebaliknya.” (inf)

(***)

Artikel Terkait

  • Tidak ada data

copyrights © 2018 MDMedia.   All rights reserved.