Tips dan Artikel

:

Mau Tahu 3 Film Indonesia Terbaik Sepanjang Tahun 2017? Cek Disini!

2018 January 09 19:57

Di luar perkara nasionalisme dan tetek bengeknya, pada dasarnya kita harus menonton film-film Indonesia. 

Andai tidak salah memilih, menonton film-film dalam negeri sebenarnya tidak akan mengecewakan dibanding menonton film-film Hollywood.

Bahkan, kita sebaiknya memang lebih memprioritaskan untuk menonton film Indonesia dibanding film barat di bioskop. 

Pasalnya, sekali kita kelewatan film Indonesia yang bagus, akan lebih sulit untuk mendapatkan kesempatan menonton lagi, apalagi jika hanya mengandalkan bajakan atau streaming di internet.

Ada tiga film tanah air Indonesia yang keren banget dan sangat sayang untuk kamu lewatkan, diantaranya:
Night Bus

Film thriller yang jadi kuda hitam di Festival Film Indonesia (FFI) yang berceritakan tentang perjalanan sebuah bus malam menuju kota Sampar yang dilanda konflik separatis selama bertahun-tahun.

Film pemenang Piala Citra ini adalah film yang tergolong tidak laku, bisa jadi karena judulnya yang kurang menarik audience.

Padahal, ada banyak sisi cerita di film ini yang lebih ‘seksi’ diabadikan sebagai judul.

Sejak nuansa thriller-nya belum menyergap, kita bahkan sudah dihipnotis seakan benar-benar sedang berada di bus malam, seperti jenuhnya, pegalnya, sesaknya, sepinya, juga rasa cemas akan keselamatan perjalanan. 

Atmosfirnya terasa riil dibanding ketika menonton film-film yang menawarkan ancaman zombie atau mahkluk supranatural, harusnya kalian lebih ngeri dengan film ini. 

Apalagi jika kalian sadar betapa mungkin pengalaman itu dihadapkan pada kita yang notabene tinggal di negara dunia ketiga dan rentan konflik. 

Pada dasarnya film ini pun mengadaptasi konteks perang bersenjata di Aceh yang berlangsung 29 tahun (1976 – 2005). 

Untungnya, Night Bus mengambil posisi keberpihakan yang tidak sewenang-wenang. Konflik berkepanjangan yang melibatkan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu memang tidak sesederhana pemberontak versus tentara, melainkan disokong oleh banyak aksi adu domba. 

Karakter-karakter yang terbunuh di film ini juga cenderung tidak tertebak, sebab yang namanya konflik memang kadang kala tidak pilih-pilih korban.
Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak

Dari satay western hingga sistem patriarki yang kena batunya, berceritakan tentang seorang janda melawan tujuh laki-laki yang merampok sekaligus hendak menggaulinya.

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak adalah film Indonesia yang secara sinematografi paling mencolok di tahun 2017. 

Lanskap sabana Sumba yang membentang berwarna coklat keemasan dikemas dengan penyutradaraan ala film koboi Amerika. 

Pola naratifnya juga khas western: pelanggaran hukum, balas dendam, dan dipungkasi dengan duel pamungkas. 

Saking menonjol gayanya, film ini kemudian disebut melahirkan nama genre sendiri, yakni satay western–logika penamaan yang sama dengan Spaghetti Western untuk film koboi buatan Italia. 

Pesona dari aspek sinematografi itu diimbangi dengan substansi cerita yang kuat. Film ini mengusung semangat feminis yang membahana, namun terarah. 

Frontal namun simbolik secara bersamaan. Bentuk perlawanan Marlina dalam film ini memang “membunuh”, namun itu hanya bagian dari metafora perjuangan kaum perempuan untuk bangkit dan menentang sistem patriarki. 

Jarang serampangan, melainkan biasa diawali dengan ketabahan. Dingin memendam luka, laiknya pembawaan Marlina (Marsha Timothy). Dan seperti yang tergambarkan di film ini juga, penegak hukum dan birokrasi tak bisa diandalkan.

Yang harus dilakukan kemudian adalah membangun solidaritas dengan sesama perempuan, di sinilah tokoh Novi (Dea Penendra) hadir.

Mungkin belum ada film Indonesia dengan perspektif perempuan segagah ini.
Turah

Dalam film yang dipilih untuk mewakili Indonesia di ajang Oscar 2018 ini, kemiskinan tidak diromantisasi atau menjanjikan mimpi-mimpi muluk. Potret kaum papa yang ditayangkan sebagaimana adanya.

Sebuah film yang sangat realistis. Menceritakan kehidupan di kampung Tirang, Tegal, Jawa Tengah yang kumuh dan seakan terkucilkan karena warganya sudah tersibukkan dengan kemelaratannya masing-masing.

kemiskinan tidak diromantisasi atau menjanjikan mimpi-mimpi muluk. 

Miskin ya miskin. Orang miskin menjadi kaya adalah kisah drama yang bisa jadi kenyataan bagi segelintir, namun kesenjangan sosial-ekonomi kian menegaskan bahwa yang paling mungkin adalah orang miskin berakhir tetap miskin, bahkan lebih buruk. 

Realitas apa adanya ini yang diangkat oleh Turah, membawa spirit aliran seni bernama realisme sosial.

Ciri lain dari Turah adalah penggunaan dialek Jawa Tegal yang khas itu. Mungkin awalnya kalian akan tertawa geli mendengar logat menyerupai ngapak (sedikit banyak berbeda) yang terus terlafal dalam dialog film ini, tapi perlahan kalian akan mulai merasa miris dan hanyut dalam konflik cerita. 

Yang harus dicamkan, segalanya itu bukan hanya ada di dalam film, tapi memang wujud di luar sana.

Kadang kita membutuhkan harapan, namun ada kala kita butuh sesuatu yang seperti Turah: riil, pedih bak sembilu, membuat kita marah hingga tergerak melakukan sesuatu.

(***)

Sumber: Hipwee.com 

Dapatkan informasi menarik lainnya dengan mendaftar DISINI.

 

Artikel Terkait

  • Tidak ada data

copyrights © 2018 MDMedia.   All rights reserved.