Tips dan Artikel

:

Omzet 200 Juta/bulan, Mantan Pengamen Ini Sukses Berbisnis Sepatu Vintage

2018 May 09 16:57

Siapa bilang kalau pengusaha sukses tidak datang dari orang-orang yang tumbuh di jalanan? Sukses menjalankan bisnis bisa diraih siapa saja, bahkan oleh seorang pengamen. Contohnya seperti kisah Gally Rangga, lelaki asal Kota Bandung yang juga merupakan mantan pengamen ini sukses berbisnis sepatu kulit dengan omzet Rp 200 juta per bulan. Wow!

Gally yang tumbuh di jalan memiliki kesukaan musik bergendre rock, sehingga Gally menyukai gaya tampilan yang garang, dari mulai baju bernuansa gelap, celana jeans sobek-sobek sampai sepatu kulit. Dari ceritanya, hanya sepatu kulit yang tidak bisa ia beli, karena pada zaman dulu harga sepatu kulit sangat mahal dan Gally tidak bisa membelinya.

Untuk menunjang penampilannya, Gally pun berinisiatif membuat sendiri sepatu kulit. Dari beberapa relasi anak jalanan yang dikenalnya, Gally mencari tukang pembuat sepatu lokal. Namun setelah dicari sampai ke pabrik sepatu kulit lokal, masih saja harganya mahal.

Setelah itu, Gally mengaku mulai berkeinginan membuat sepatu sendiri. Hingga akhirnya Gally menemukan tukang pembuat sepatu yang masih merintis dan mendapatkan harga yang terjangkau. Dari saat itu Gally mengakui, keinginannya untuk berbisnis sepatu kulit mulai kuat.

Gally yang setiap hari mengamen mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk mengumpulkan modal usaha. Penghasilannya harus dibagi untuk makan dan kehidupan sehari hari.

“Dulu saya suka banget sama sepatu, tapi entah kenapa sukanya yang mahal. Sementara kan dulu hidup saya susah, sepatu kulit nggak kebeli. Ahirnya nyari temen tanya sana sini, dimana tukang sepatu yang murah. Akhirnya bisa dapat tuh sepatu kulit dengan harga yang murah dan bagus, dari situ kepikiran buat bisnis. Sampai akhirnya nabung sedikit sedikit,” kata dia kepada detikFinance, Sabtu (28/4/2018).

Dari hasil tabungannya, Gally berhasil mengumpulkan uang Rp 5 juta dari tabungannya sebagai pengamen. Dari saat itu Gally memulai usahanya di tahun 2011. Untuk membuat sepatu yang khas, ia mengaku sangat sulit untuk membentuk karakter yang kuat di sebuah item. Dari tahun pertama, akhirnya Gally mengeluarkan sepatu pertama dengan brand Way Out yang kemudian mendapat respon positif dan sukses memiliki banyak pelanggan. 

Awalnya, Wayout membuat sepatu dengan bahan kulit yang impor. Seiring berjalannya waktu, ia menggantinya dengan kulit lokal. Saat ini Wayout berusaha untuk memproduksi sepatu dengan bahan murni lokal.

Menurutnya, bahan kulit impor lebih bagus dari segi perwarnaan dan kimia.

“Sekarang gimana caranya perusahaan kulit biar seimbang dengan bahan impor,” katanya.

“Untuk membaca pasar, tiap tahun beda-beda, ada kolektor Wayout addict, sekali belanja 18 pasang,” ungkapnya.

Produk Wayout bisa dipesan secara custom. Jika bahan baku kulit sudah tersedia, satu pasang sepatu custom bisa diselesaikan selama 14 hari.

Tak puas lima tahun menggarap projek sepatu kulit dengan karakter untuk orang dewasa, Gally pun memperluas pasar ke segmen yang lebih muda. Hanya dengan modal penasaran dan coba coba, akhirnya Gally membuka brand baru yaitu Exodos di tahun 2016. 

Dari saat itu Gally merasa bisnis sepatunya mulai dikenal luas. Gally menjelaskan, berawal dari kesukaannya terhadap tren old fashion di era 70-an, yang bisa membuat Gally mendesain bots dan vintage sneekers yang begitu khas dari karakter Exodos.

“Kalau Way Out kan harganya diatas, karena yang belipun orang orang usia 30 an, nah saya ingin buat untuk pasar anak muda. Saya buat Exodos, dia baru 2 tahun tapi responsnya lebih kuat,” kata dia.

Gally menjelaskan di tahun keduanya menggarap brand Sepatu Exodos. Sepatu yang dibuatnya sengaja dibuat dengan desain yang kental akan nuansa retro. Sepatu yang di desain oleh Gally banyak dibuat dengan konsep sneakers sederhana yang dibuat dari kulit berwarna coklat gelap, hitam serta hijau tua yang tampak memikat dan terkesan jadul. (inf)

(***)

Artikel Terkait

  • Tidak ada data

copyrights © 2018 MDMedia.   All rights reserved.